Wednesday, March 22, 2017

Bara Api Dalam Hati ( Jadi Pengangguran Lagi )

JADI PENGANGGURAN LAGI


akhirnya aku sampai juga dikotaku, dimana aku tinggal.
pagi-pagi buta aku di jemput adikku.
anak ini memang sangat baik.
dia termasuk pendiam di keluarga, walau kalau sudah ngomong tidak ada hentinya.
sesampainya dirumah aku langsung diberi minuman hangat oleh ibuku.
sebentar lagi beliau berangkat kerja.
memang beliau berangkat kerja pagi-pagi, karena tempat kerja yang jauh.

aku belum di tanyai soal bagaimana nasip usahaku ke kota.
yah mungkin karena sudah saatnya beliau berangkat, atau biar aku tenang.
hujan turun rintik-rintik....
hawa dingin kampungku sangat terasa khasnya, berbeda dengan dinginnya kota.
karena kecapean dijalan aku memutuskan untuk tidur.
lagipula suasananya sangat mendukung ( gejala pengangguran sudah mulai ada ).

hari itu aku bangun cukup siang.
karena dirumah tidak akan ada yang membangunkanku kalau aku libur.
karena aku pengangguran dan tidak ada kegiatan mereka membiarkannku tidur.
setelah bangun aku pun makan sambil nonton tv.
saat itu ibuku sudah pulang dari kerja, memang ibuku hanya bekerja dari pagi sampai siang hari.

beliau mendekatiku, dan mulai bertanya padaku.
" bagaimana apa kamu di terima kerja?"
" belum " jawabku.
" terus bagaimana, berarti kamu tidak di terima kerja "
" belum tentu juga, soalnya belum ada yang di panggil " jawabku
" oh, ya sudah semoga segera dapat panggilan dan kamu di terima ".
sedih rasanya melihat dia cemas.

kini setiap hari kerjaanku hanya nonton tv dan mancing.
tiap hari bangun siang, makan dan tidur lagi.
aku hampir setres rasanya.
beban malu pada keluarga, beban malu pada tetangga.
yang terparah adalah aku malu ke bapakku, malu kalu aku gagal lagi.
malu aku belum bisa memulai melampauinya.
seminggu berlalu aku di rumah, maka genap 2 minggu dari selesai ujian.

aku berpikir aku tidak akan dipanggil lagi.
mungkin aku memang tidak di terima kerja di tempat itu sekarang.
sekarang genap satu bulan aku menganggur setelah lulus.
" apa ini karena aku menyia-nyiakan dua kerjaan sebelumnya ya? " kataku dalam hati. 

tiba-tiba hp ku berdering.
kulihat nomor kenalan sesama ujian waktu dikota.
aku angkat...
" hallo, apa kabar kum? ".
" kabar baik end ".
" end apa kamu sudah di telephon sama tempat kerja? ".
" alhamdulillah end aku di terima lo, aku dapat bocoran dari kenalanku yang sudah kerja di situ ".
" wah selamat kum aku turut senang, aku masih belum di panggil ini ".
" wah kok bisa, ya sudah coba telphon saja, tadi aku juga telpon kesana untuk memastikan ".
" oh, beneran? ".
"  iya bener coba aja end, ke nomor yang di hubungi kita untuk interview dulu ".
" ok deh kalo begitu, terimakasih ya untuk informasinya ya kum ".
" iya sama-sama end ".

segera aku telephon nomor yang dulu mengundangku untuk interview.
untungnya aku masih menyimpannya.
saat aku telephon yang akngkat seorang laki-laki, padahal dulu perempuan.
dan nomor ini adalah nomor peribadi, bukan telphon kantor atau rumah.
entahlah, aku bicara saja.
" hallo, bisa bicara dengan ibu ummah ( nama dipalsukan ) ".
" oh, istri saya sedang mandi, ini dengan siapa dan ada keperluan apa ya? " kata laki-laki itu.

ternyata dia suami ibu ummah.
yah mungkin memang ibu ummah sudah dirumah.
aku telphon waktu itu juga sudah agak sore, sekitar jam setengah empat.
" saya endri pak, saya dulu yang interview dengan ibu ummah " lanjut bicaraku.
" saya ingin menanyakan seputar hasih interview kemarin, hasilnya bagaimana ".
"soalnya teman saya sudah ada yang dapat kabar, saya hanya ingin memastikan saja ".
" oh ya sebentar lagi telphon lagi ya, dia sedang mandi " jawab laki-laki itu.
" iya pak, terimakasih ya, nanti saya telphon lagi ".
aku matikan telphonku, dan berniat menelphonnya kembali tiga puluh menit kemudian.


to be continue....
 

No comments:

Post a Comment

thank for commen