Masih Mulai Awal Baru
Tanpa kepastian aku pulang kekampung halamanku.
Bukan berarti aku menyerah, itu semua karena pilihan terbaik.
Jika aku bertahan di kota tanpa bekal, tanpa pekerjaan aku akan jadi gelandangan.
Aku tidak ingin menyusahkan temanku dengan menambah bebannya.
Aku juga tidak bisa bekerja sebagai buruh kasar di proyek.
Bukan aku sombong, tapi percayalah fisikku tidak terlalu kuat.
Jika aku terus berada di kota aku akan jadi benalu bagi sahabatku si tot.
Lagi pula bedeng yang aku tempati adalah tempat tidur para pekerja bangunan itu.
Mulai ada ucapan-ucapan sinis dari beberapa teman tot.
Walau mereka tidak bicara langsung padaku, aku tau mereka sedang menyindirku.
Akupun sempat pindah di bedeng yang di tempati tetanggaku.
Karena tetangga dan dia mengenal guruku, maka dia mempersilahkanku.
Semalam aku tidak apa-apa menginap di situ.
Namun dimalam kedua aku mendapatkan pembicaraan yang bagiku sangat tidak enak.
Mereka membicarakan ibu dan bapakku seolah mereka kenal baik.
Mereka bicara hal-hal buruk tentang keduanya.
Karena aku sedang menumpang di tempat mereka aku lebih memilih menjawab baik-baik.
Namun rasanya kepalan tangan ini ingin melayang ke wajah mereka.
Andai saja saat itu aku buakan tamu yang menumpang.
Walaupun aku marah, otakku masih tetap dingin, masih tetap sehat.
Sehingga aku masih bisa mengontrol diri.
Aku sadar akan posisiku.
Sekali lagi, senyuman palsu yang selama ini aku gunakan ke bapak aku pakai.
Rasanya aku sangat menjijikkan.
Setelah tidak tahan akan gurauan ataupun bualan mereka aku memilih pergi.
Walau sudah terbiasa aku mendengar hal semacam ini, aku masih merasa marah.
Aku tidak nyaman.
Aku merasa keluarga adalah hal tabu untuk dibicarakan.
Aku menyalahkan mereka, kedua orangtuaku.
sering aku bertanya dengandiriku sendiri.
"Apa yang mereka pikirkan?"
"Mereka menikah dan bercerai?"
"Bukankah mereka mempunyai kecocokan satu sama lain saat pacaran?"
"Lalu kenapa setelah menikah mereka bercerai?"
"Apakah bapak tidak sayang lagi pada ibu sehingga dia mendua?"
Aku bahkan malu memperkenalkan orangtuaku pada dunia.
Pada teman-temanku.
Makanya tidak ada temanku yang kuijinkan mampir kerumah.
Entahlah, walau aku masih anak-anak aku sudah mengerti akan kondidi orangtuaku.
Mereka berdua buruk dalam hal berbeda.
Didepan mataku bapak membawa pulang wanita simpanannya yang kini jadi istri barunya.
Didepan mataku aku sering lihat pertengkaran diantara ibu-bapak.
Di telinga dan otakku selalu di tanamkan kecurigaan dari ibuku ke bapak.
Ditanamkan kebencian kepada bapak.
Mungkin karena itu aku menyadari situasinya.
Aku sangat ingat kalau aku mulai sadar situasi orangtuaku saat umur enam tahun.
Entah mengapa umur semuda itu aku sudah malu dan tersinggung kalu menyangkut keluarga.
Sampai suatu ketika saking aku malunya aku menyuruh ibuku pulang saat mengantarku.
Dipikiranku aku malu dengan penampilan ibuku yang kumel.
Namun sebenarnya bukan itu alasanku.
Aku malu karena hanya ibuku, kenapa tidak ada bapakku?
Aku malu kalau ada yang bilang....
"Eh kamu kan endri, anaknya si G (harus aku samarkan ) yang JANDA"
Kata-kata itu yang paling aku benci.
Sementara sewaktu kecil aku tidak pernah berani sekalipun pada bapak.
Walau aku sangat membencinya, dan mengutuknya.
Tidak pernah sekalipun saat aku melihatnya tidak memikirkan agar dia mati saja.
Walau begitu aku tidak pernah berani menolak kata-katanya.
Jangankan kata-katanya, aku bahkan tidak pernah memandang matanya secara langsung.
Hanya berkata "iya" dan menunduk saat aku bicara dengan dia.
Aku sangat benci dia, aku mengutuknya.
Aku jijik padanya, bahkan melebihi apapun.
Dia pernah bilang pada ibuku, dan aku dengar.
"Aku tidak akan pernah puas dengan satu wanita" kata bapak.
Aku entah mengapa masih ingat kata-kata itu.
Dan sejak aku mendengarnya aku makin jijik padanya.
Namun aku masih belum bisa melawan, atau berbuat apa-apa.
Aku masih butuh setrategi untuk mencapai puncak.
Agar aku dapat mengalahkan dia.
Agar aku dapat membuktikan bahwa dia salah.
Akan aku buktikan anak yang diremehkannya dapat meloncatinya.
Sampai masa itu, aku terpaksa terbelenggu dan hidup penuh kepalsuan.
Bahkan untuk sebuah senyuman.
Tak lama aku tebangun, ah sudah hampir setengah perjalanan.
Aku tertidur dan mimpi-mimpi itu datang.
Selalu saja begitu, memori-memoriku terus muncul dalam tidurku ketika banyak pikiran.
Mungkin itu adalah sebuah penyemangat dari allah padaku.
Agar aku semangat, tidak mudah menyerah dalam mewujudkan keinginanku.
Agar suatu saat aku dapat melampaui bapakku!
to be continue
No comments:
Post a Comment
thank for commen