Wednesday, April 5, 2017

Bara Api Dalam Hati ( MASIH PERJUANGAN BARU )

MASIH PERJUANGAN BARU


setelah selesai aku telphon dia.
aku duduk sambil berpikir apa yang harus aku lakukan.
apa aku harus pinjam uang?.
tapi pada siapa?
seorang bapak berbuat seperti itu pada anaknya sendiri.

aku tahu aku berhutang budi padanya yang tidak akan pernah terbayarkan.
namun apa itu hutang budi?
bukankah itu tanggung jawab seorang bapak mengawal anaknya sampai dia mampu berdikari?
apa iya ada anak yang begitu lulus sekolah langsung punya uang?
dengan pengalaman yang minim.
harus mencari kemana?

dia yang selalu menggaungkan untuk berani keluar dari lingkungan rumah.
namun kenyataannya dia sendiri tidak mendukung apa yang dilakukan anaknya.
memang aku sekarang sudah berbekal pengetahuan, juga ijasah.
namun aku masih minim pengalaman, juga materi.
apakah selesai sekolah aku sudah tidak butuh modal untuk kerja.
kesawah saja paling tidak harus punya cangkul.
cangkul saja harus di beli dengan uang.
jika aku tau cara mengolah tanah.
namun aku tidak punya cangkul dan sabit untuk alat pengolahannya, bagaimana bisa?
lantas apakah aku harus membuat cangkulku sendiri?
apa besinya tidak harus aku beli?
apakah batu asah juga harus aku gali sendiri dari bumi dengan tanganku?

sesederhana itu saja, tidakkah dia berpikir?
apa dia hanya mampu menyombong dan omong belaka?
aku tidak butuh modal banyak untuk berusaha.
aku hanya butuh bekal sedikit uang untuk makan dan transport sampai aku mendapatkan gajiku.
apakah itu terlalu berlebihan?

jika saat-saat seperti ini tiba.
jujur sering aku mengumpat dan mengutuk, bahkan mendoakan yang terburuk untuknya.
hal tesebut bukan semata-mata aku kekanak-kanakan.
bukan semata-mata apa permintaanku tidak di turuti oleh dia.
hal tersebut muncul karena aku, melihat dengan mataku sendiri.
apa saja perbuatannya, bukti-bukti apa saja keburukannya sebagai bapak.
aku bukan anak bodoh, aku hanya diam karena aku tidak punya kuasa.
bahkan kalau bukan dalam kondisi seperti ini aku tidak pernah iri pada saudara tiriku.
aku tidak pernah iri mereka makan enak, mereka punya mainan bagus.
yang saat dulu aku minta tidak pernah dibelikan dengan alasan aku tidak butuh.
aku tidak pernah iri mereka sering jalan-jalan dan belanja barang-barang bagus.
aku tidak pernah iri mereka punya pakaian, tas, sepatu yang bagus-bagus.
bahkan aku tidak iri mereka punya banyak perhiasan.

namun ketika saat seperti ini tiba hatiku sangat sakit.
sakit sekali, sampai aku tidak mampu menangis, aku hanya bisa mengutuknya.
pernah suatu ketika, sakit hatiku sangat dalam padanya.
aku membacakan surat al qur'an, surat yasin tepatnya.
kenapa aku lakukan ini, karena di lingkunganku surat ini sering dibaca untuk si mayit.
atau untuk mendoakan orang meninggal.
aku bacakan untuknya,dengan anggapan bahwa dia sudah mati.
masih sedikit berbakti aku mendoakannya setelah mati, walau itu memenag tanggung jawabku.
itu aku lakukan jauh sebelum dia berkecukupan.

namun aku baru tau bahwa surat yasin bila dibacakan dengan tulus, untuk orang yang masih hidup.
maka itu akan membuat orang tersebut menjadi hidup makmur, atas izin allah.
entah benar dari doaku atau bukan.
namun sekarang dia hidup berkecukupan dengan keluarga barunya.

benar dia mengajarkannku menjadi laki-laki yang tangguh.
mengajarkanku mandiri.
mengajarkanku tidak menyerah pada hidup dan keadaan.
namun semua yang dia lakukan belum sanggup aku cerna pada waktu itu.
namun selain itu dia juga mengajarkanku peribadi yang buruk.
yaitu sebagai seorang pendendam.
rasa benciku takpernah luntur, meski sering di sirami nasihat baik guruku.
bahkan aku tidak pernah takut aku berdosa atau durhaka.

bagiku, bukan aku yang durhaka padanya.
tapi dialah yang durhaka padaku dan ibuku.
seburuk apapun ibuku, beliau masih menyayangiku.
walau sering aku melukai hatinya, beliau selalu mengutamakan aku dan adikku.
bagiku sekarang ibu dan adikku lah prioritas utamaku.
aku tak akan menyakiti hati beliau sebisaku.
walau dengan pribadiku aku takyakin.
namun aku tak akan sekalipun berani mengutuk,atau berdoa buruk pada ibuku.
biarlah kelak aku dianggap durhaka pada bapakku, namun dialah yang membuatku demikian.

sementara itu ibuku menghampiriku dari belakang.
"bagai mana?, apa bapakmu ngasih uang saku untukmu?"
"tidak buk, bahkan seperti biasa, dia marah-marah dan mencaci aku".
"katanya aku anak yang tidak tau terimakasih"
lalu ibuku duduk di sampingku.
"ya allah, orang itu apa yang dikatakannya pada anak sendiri".
"benar-benar bapakmu itu kelewatan"
"pelacur dan anak-anaknya yang di sana saja yang di perhatikan."
"sementara anaknya disini di telantarkan"
"sudah lah buk, biarkan saja suatu saat aku akan melampauinya"
"dan lihat saja suatu saat dia akan tau siapa anak yang lebih berbakti padanya"
"sudah end, nanti kamu setelah jadi orang yang sukses jangan pernah ingat dia lagi"
"emang dia pikir siapa nanti yang akan mendoakan dia di dalam kubur?"
"anak-anakku disini kamu dan adikmu adalah anak-anak yang ahli ngaji"
"kalian berdualah yang nanti akan menerangi kubur orang tua"
"amin buk"
"terus bagaimana sekarang end?"
"enthlah buk bingung saya"

aku dan ibuku terdiam untuk sesaat.
"ya sudah nani ibuk carikan hutang di pabrik ibu buat ongkos kamu kerja"
aku tau ibu sudah begitu banyak terlilit hutang.
bahkan secara logikaku, dan perhitunganku hutang itu tidak mampu dilunasinya.
seharusnya uang gajian ibu cukup untuk makan kami sehari-hari saja.
ya hanya untuk makan,unag sekolah tidak mampu ibu bayar.
namun beruntung kami tinggal dengan nenek.
kami menumpang hidup dengan nenek.
setiap hari nenek masih mendapatkan uang untuk belanja dan beli beras dari paman.
ya, pamankulah yang sedari kecil memberi makan aku, ibuku, adikku, dan nenekku.
bukan bapakku, yang harusnya itu tanggung jawabnya.

walau aku tidak terlalu akrab dengan pamanku.
dulu aku akrab dengannya, namun ada suatu kejadian yang terjadi.
entah lah aku samar-samar mengingatnya.
pada saat itu aku akan dihajar pamanku dengan ember, sudah kena beberapa kali pukul.
entah kenakalan apa yang aku lakukan aku tidak ingat.
sampai-sampai pamanku marah besar padaku.

saat itu yang aku ingat ibu memelukku di atas tempat tidur dan menghalangi pukulan paman.
lalu pamanku bilang dengan suara amarah yang membuatku menggigil.
"kalau kamu lindungi anakmu terus aku tidak akan mau lagi menyentuhnya.!!"
semenjak saat itu sama sekali aku takpernah berteguran dengan pamanku.
bahkan saat idulfitri aku hanya salaman dengan panamku.
namun tetap sikapnya dingin.
kalua dia mau menyampaikan sesuatu pasti lewat nenek.
padahal dulu seingatku aku sangat dekat dengan dia.
seingatku aku pernah dibonceng jalan-jalan berdua saja dengannya.
mungkin itu kenakalan anak yang tak pernah diasuh bapaknya.
seperti kenakalan-kenakalan anak yatim pada umumnya.

mesti kami saling tak bertegur sapa sampai aku lulus sma dia tetap orang yang baik.
apa kebutuhanku yang kurang sering di tutupinya.
lagi-lagi lewat nenekku.
bahkan ketika aku kecil aku di usir dari rumah tetangga karena numpang nonton tv.
beberapa hari kemudian aku dibelikannya tv.
ya jamanku kecil dikampungku hanya beberapa orang yang punya tv.
itupun hitam-putih.

uang yang seharusnya buat renovasi rumah dibelikannya tv 21 inc.
tv pertama dengan ukuran besar dan bewarna.
sampai para tetangga heran pamanku beli tv semahal itu.
itu dilakukan karena aku yakin dia tidak mau aku di usir orang lagi.
atau mungkin dia merasakan perasaaku saat di usir orang.
dia ikut sakit hati, karena dia mungkin pernah diremehkan orang juga.
karena cerita hidupnya tidak jauh berbeda dariku.
dia yatim dengan bapak yang masih ada.
dia pernah mengusir bapaknya karena sakit hati yang sama olehku.
atau boleh dibilang dia lebih menderita.
karena sedari kecil dia takpernah merasakan kebahagiaan, hidupnya penuh kerja keras.
berbeda dariku yang masih di sekolahkan bapak,  dia tidak.
walau dia orang yang sangat cerdas saat sd.
ya dia hanya lulusan sd.
namun dia mampu hidup dan berjuang sendiri.
bahkan menghidupi keluarga kakaknya dengan dua anak yang ditinggal suaminya.

setelah lulus sma kami berbicara hanya seperlunya.
bagiku itu suatu kemajuan yang pesat.
aku sering berhayal kenapa tidak dia saja yang jadi orangtuaku.
dibalik sikapnya yang dingin dia masih menyayangiku.
atau paling tidak dia punya rasa tanggung jawab sebagai seorang laki-laki.
dia memang dingin saat dirumah tapi ternyata dia orang yang rame di tempat kerja.
mungkin inilah dirinya yang sebenarnya, seorang periang.
namun semua itu di renggut oleh para bapak yang tidak pernah punya jatidiri seorang bapak.
kenapa aku tau semua itu?
karena aku pernah ikut pamanku bekerja beberapa bulan setelah lulus sma.
dan beberapa minggu saat libur kuliah.

"jangan buk, gak usah"
"biar nanti aku cari kerja lagi dekat-dekat sini saja biar irit ongkos"
kataku menjawab ibuku.
aku tidak ingin beliau terlilit lebih dalam dengan rentenir.
"kamu sudah melepas dua pekerjaan, sekarang dapat lagi mau kamu lepas lagi?"
"ya mau bagaimana lagi buk, kan tidak ada uang buat modal ke perantauan".
"aku gak mau ibuk makin terlilit hutang karenaku"
ya hutang ibuku begitu banyak.
aku tidak tau pasti untuk apa, saat ditanya beliau selalu saja marah.
bahkan sampai saat ini.
alasannya untuk emenuhi kebutuhanku, tapi entahlah kebutuhanku yang mana.
aku tidak mengerti karena aku tak pernah diberitahu.
untunglah kami makan diberi paman, jadi gaji ibu untuk bayar hutang.
ya ya ya singkatnya ibu bekerja namun takpernah mendapat gaji hehehe.

rupanya nenekku mendengar dari belakang.
tanpa sepengetahuanku dia bilang pada pamanku.
nenekku memeang sangat sayang padaku sedari kecil.
senakal apapun aku, aku akan dimarahi hehe
namun setelah itu aku di berinya uang jajan, ya lagi-lagi sisa uang belanja dari paman.

sudah dapat di pastikan pamanku menolongku.
dia memberikan uang yang cukup untuk ongkos dan makan sebulan.
tanpa aku minta jumlahnya berapa, tapi itu cukup dan pas satu bulan habis.
nenekku yang memberikan uang itu padaku.
dia baru cerita ketika sudah dapat uangnya.
dan dia bilang aku tetap disuruh jalan kekota oleh pananku.

betapa senang dan terharunya aku kala itu.
orang lain yang bukan bapakku begitu sayang padaku.
begitu memikirkan aku.
begitu tidak terima saat aku di hina orang.
namun bapakku sendiri lebih memilih menghamburkan uangnya untuk pelacur.
dan dengan sombongnya dia bilang, karena sudah capek-capek bekerja.
maka dia berhak senang-senang.


to be continue......


No comments:

Post a Comment

thank for commen