Sunday, April 2, 2017

Bara Api Dalam Hati (PERJUANGAN BARU )

 PERJUANGAN BARU

segala mesuatunya telah aku siapkan untuk menuju kota besar.
sisa unag yang kemarin dari kota aku carikan tambahan.
aklau aku hanya pakai uang itu aku tidak akan bisa makan sebualan di kota.
nenekku menawarkan ayam peliharaannya untuk di jual.
tak tega rasanya aku, hanya ayam hiburan nenekku di rumah.
namun aku juga sangat membutuhkan uang.

aku bingung harus mencari kemana, tambahan uang saku.
kemudian ibu memberiku saran,
"coba kamu minta uang pada bapakmu, siapa tau dia memberimu".
kemudian aku telphon bapak untuk minta uang saku,
"hallo, pak bagai mana kabarnya". awalan pembicaraan basa-basiku.
"kenapa kamu telphon bapak, bapak sedang di tempat kerja". jawabnya
"begini pak, saya sudah di termima kerja di kota".
"saya butuh ongkos untuk kekota, dan makan barang sebulan".
itu yang aku sampaikan, aku belum memikirkan tempat tinggal.
karena aku pikir aku akan numpang lagi di bedeng si tot.

bapakku sewaktu aku sekolah selalu ada target yang harus aku capai.
dan itu membuat aku terbebani, namun aku bersyukur dapat memetik hasilnya.
bahkan pada saat aku kuliah pun, dia sudah ada target yang di canangkan padaku.
katanya "kamu anak laki-laki, kamu harus berani melangkah".
"selesai kuliah nanti kamu jangan tinggal di kota ibumu".
 "kamu cari pekerjaan di kota, kalau bisa sampai keluar negeri".
"jangan sudah di sekolahkan mahal-mahal malah nganggur".
"atau malah gajinya lebih kecil dari bapak yang cuman seorang lulusan sma".
"paling nanti juga kamu tidak akan sanggup memberi orang tuamu Rp 500.000,-/bulan".
"bapak akui hebat kalo kamu sanggup" dengan nada sinis.

betapa mirisnya omongan seorang bapak kepada anaknya.
saat itu aku sedang makan dirumahnya.
aku hanya bisa diam, dengan perasaan sangat terhina.
kalu saja aku tidak butuh, kalau saja aku tidak lapar, aku tidak akan sudi.
mungkin kalian pikir itu adalah sebuah cambuk semangat seorang bapak pada anaknya.
namun percayalah itu berbeda, itu sungguh suatu yang berbeda.

maka dia menjawab perkataanku di telphon,
"la kamu kan sudah bapak kasih tongkat, berupa pendidikan".
"sekarang kamu sudah lulus masih meminta uang pada bapak".
"kamu itu tidak tau terimakasih sama sekali ya sama orang tua".
"kalo telphon pasti cuman minta uang".
"bapak sudah selesai mensekolahkan kamu, sekarang giliran adek-adekmu yang disini yang butuh uang".

kata adek-adekmu yang disini, sungguh adekku yang sebenarnya takpernah disebutkan.
kasian kau dek, takpernah di ingat bapakmu.
semoga kita kelak dapat melampauinya.
dalam benakku selalu berkata,
"kalu tidak kuat siapa suruh punya anak banyak, menikah lagi".
"kesalahanmu cuman kamu suka main perempuan dan main gila dengan perempuan itu".
"sementara aku anakmu kamu telantarkan".
"sedikit pemberianmu selalu kamu besar-besarkan, seolah itu bukan suatu tanggung jawabmu".

"kamu kan anak laki-laki kamu harus bisa menyelesaikan masalahmu sendiri" sambungnya lagi.
"jangan kamu selalu mengandalkan bapakmu" kata andalannya keluar.
"kamu sudah berani mengambil sikap untuk kerja jauh ya kamu harus tanggung konsekuensinya".
"disini bapak masih banyak tanggungan adik-adikmu yang disini, memang tidak butuh uang?
lalu adikku yang bersamaku, anakmu apa juga tidak butuh uang.
segala macam mainan, makanan enak, pakaian lengkap, tempat tinggal untuk mereka.
perhiasan dan sebagainya semua tercukupi.
kami tidak pernah mendapatkan itu darimu.
kenapa ketika kami meminta sedikit hak kami kamu selalu marah.
seolah kami yang telah menghabiskan hartamu.

"lagian kamu kemarin kan sudah menjual motor adikmu, memangnya uangnya habis" sambungnya lagi.
"pak motor itu hanya laku 2 juta setengah, uangnya sudah di buat riwariwi seleksi kemarin"
" uangnya sisa 300 ribu, itu saja kalu kemarin saya tidak tinggal di bedengnya si tot pasti habis".
"memang uang itu cukup untuk saya jalan lagi ke kota".
"tapi sampai disana kan saya butuh makan, itu hanya cukup untuk tiket"
apa dia lupa motor yang dipinjamkannya dulu harganya tidak lebih dari 3 juta?
itu saja kalau bukan pamanku yang beli tidak akan laku 2 juta setengah.

"hah kamu ini selalu bisanya bikin pusing bapak saja"
"pokoknya bapak tidak punya uang, kamu usaha saja sendiri".
"kamu kan sudah besar, dan sudah bapak sekolahkan jangan selalu minta bapak"
"lah, saya cari dari mana lagi pak?"
"saya kan baru lulus, saya belum kerja ini saya minta juga untuk modal kerja"
"dulu kan bapak yang menyarankan saya untuk kerja di luar kota"
"sekarang sudah akan saya lakukan"
"saya cuman butuh uang dan ongkos untuk sebulan saja"
"ah kamu ini, ngejawab terus pokoknya bapak tidak bisa kasih kamu uang".
"thut...thut...thut...".
telphonnya di putus.

adakah orangtua yang menjilat omongannya sendiri seperti itu?
adakah kesombonganya, arogansinya di tunjukkan seperti itu?
aku berusaha yang terbaik untuk memenuhi kebanggaannya, namun sikapnya selalu sama.
dia selalu marah setiap kali aku telephon.
setiap kali aku mengadu membutuhkan uang.
entah untuk saku, atau pembayaran kuliah.
aku tergolong anak yang sering ikut ujian sendiri, atau susulan.
karena menunggak uang semester.
namun aku tetap berperestasi.

aku sudah biasa dimarahinya, makanya aku tidak kaget.
perlakuan seperti itu sudah aku bayangkan sebelumnya.
setelah dia selesai mensekolahkanku dia merasa sudah tiddak ada lagi tanggung jawab padaku.
sekarang aku harus mencari uang dimana lagi ya allah...
lemas sambil memegang telphon.
pekerjaan di depan mata, haruskah aku lepas karena aku tidak ada uang saku....


to be continue.....

No comments:

Post a Comment

thank for commen